Ingatlah kawan, satu tahun yang lalu
rektorat sudah memperilhatkan kediktatorannya dengan menaikan dana SPI untuk
mahasiswa baru regular sore. Dalam hal ini rektor semakin pintar dalam
mengambil kebijakan dengan tidak memperhatikan pendekatan kemanusiaan.
kenaikan Dana SPI Pada tahun 2010 yang sebelumnya sebesar Rp. 1 juta menjadi 2
juta telah memperlihatkan kepada kita betapa kejamnya pemimpin-pemimpin di
kampus seribu cemara ini. Dengan kenaikan dana tersebut tentunya jumlah
anggaran yang akan diterima fakultas akan semakin banyak. Kalau kita
kalkulasikan dana SPI tersebut, 2 juta dikalikan dengan 360 mahasiswa baru regular
sore, maka fakultas akan mendapatkan dana SPI sebesar RP. 720 juta dalam
setahun, ditambah lagi dengan dana SPI beberapa tahun sebelummnya, tentunya akan mencapai
milyaran rupiah. Dengan jumlah anggaran yang lumayan banyak untuk pembangunan
sebuah gedung berlantai tiga, seharusnya lantai 1 gedung E sudah bisa dipakai
dengan 3 ruangan dilengkapi dengan fasilitas pendukung perkuliahan seperti,
papan tulis, LCD, Kipas angin, dan lain sebagainya bahkan lantai dua pun saat
ini sudah bisa terlihat. Akan tetapi realita
yang terjadi sekarang, gedung E FKIP hanya sebagai iming-iming dan angan-angan
kita bersama. Gedung ini_pun menjadi gedung
setengah mateng, setengah dalam perencanaan, setengah dalam pengerjaan dan
hasilnya pun masih setengah-setengah. Jikalau fakultas belum siap membangun
gedung ini, seharusnya dari dulu ditiadakan saja. Ujung-ujungnya mahasiswa yang
menjadi korban atas kelambatan pembangunan ini.
Lihatlah kawan..! Kampus kita ini
masih dipandang sebelah mata oleh pihak rektorat, terbukti kurang dari 1 tahun
sudah berdiri kokoh gedung rumah sakit pendidikan yang sengaja dibangun untuk
mengejar akreditasi A fakultas kedokteran. Padahal Akreditasi program studi di FKIP masih rata-rata C. lalu kenapa yang diperjuangkan hanya
fakultas kedokteran, kenapa fkip tidak? Apakah FKIP hanya dijadikan sebagai
fakultas tambahan tanpa perhatian? Dimana letak keadilan pemimpin kita? Akankah
dengan pergantian dekan FKIP bisa menjawab keinginan dan angan-angan kita
bersama ini? Semoga FKIP kedepan menjadi lebih baik. Kepada dekan FKIP (Bapak
Prof. Dr. Mahsun, MS) kami menunggu kontribusi dan dedikasi bapak. Tentunya
sebagai orang tua kami dikampus, memberikan sebuah perubahan yang nyata adalah
suatu keniscayaan. Menjadi pemimpin bukan hanya untuk mengejar tunjangan, tapi
bagaimana caranya agar kami bisa mencintai pemimpin selayaknya sebagai orang
tua kami.
oleh *isa ihromi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar