08/03/11

Gedung Setengah Mateng

Empat tahun sudah mahasiswa menanti sebuah karya besar dari seorang pemimpin yakni lahirnya gedung E FKIP UNRAM. Tahun 2006 silam merupakan tahun pertama dibangunnya gedung ini. Memasuki tahun 2007-2008 masih terlihat pondasi yang tidak indah dipandang mata, tahun 2009 terlihat tiang-tiang bangunan bagaikan benteng pada zaman belanda, memasuki tahun 2010 baru dilakukan pengecoran, dan pada akhir 2010 memasuki tahun 2011 akhirnya terlihat satu lantai dari 3 lantai yang direncanakan dan itupun sekedar jadi (hanya sebagai penenang hati mahasiswa). Hal ini membuktikan bahwa FKIP masih lamban dalam menyelesaikan pembangunan gedung E. apa yang ditunggu oleh para pemimpin kita…? Anggaran? mungkin ia. Jikalau dana sebagai alasan utama, tentunya perlu kita pertanyakan dikemanakah anggaran yang diperoleh dari mahasiswa? Padahal FKIP UNRAM merupakan fakultas yang memiliki mahasiswa terbanyak di Universitas Mataram. 
Ingatlah kawan, satu tahun yang lalu rektorat sudah memperilhatkan kediktatorannya dengan menaikan dana SPI untuk mahasiswa baru regular sore. Dalam hal ini rektor semakin pintar dalam mengambil kebijakan dengan tidak memperhatikan pendekatan kemanusiaan. kenaikan  Dana SPI Pada tahun 2010  yang sebelumnya sebesar Rp. 1 juta menjadi 2 juta telah memperlihatkan kepada kita betapa kejamnya pemimpin-pemimpin di kampus seribu cemara ini. Dengan kenaikan dana tersebut tentunya jumlah anggaran yang akan diterima fakultas akan semakin banyak. Kalau kita kalkulasikan dana SPI tersebut, 2 juta dikalikan dengan 360 mahasiswa baru regular sore, maka fakultas akan mendapatkan dana SPI sebesar RP. 720 juta dalam setahun, ditambah lagi dengan dana SPI beberapa  tahun sebelummnya, tentunya akan mencapai milyaran rupiah. Dengan jumlah anggaran yang lumayan banyak untuk pembangunan sebuah gedung berlantai tiga, seharusnya lantai 1 gedung E sudah bisa dipakai dengan 3 ruangan dilengkapi dengan fasilitas pendukung perkuliahan seperti, papan tulis, LCD, Kipas angin, dan lain sebagainya bahkan lantai dua pun saat ini sudah bisa terlihat. Akan tetapi realita  yang terjadi sekarang, gedung E FKIP hanya sebagai iming-iming dan angan-angan kita bersama. Gedung ini_pun menjadi gedung setengah mateng, setengah dalam perencanaan, setengah dalam pengerjaan dan hasilnya pun masih setengah-setengah. Jikalau fakultas belum siap membangun gedung ini, seharusnya dari dulu ditiadakan saja. Ujung-ujungnya mahasiswa yang menjadi korban atas kelambatan pembangunan ini.

Lihatlah kawan..! Kampus kita ini masih dipandang sebelah mata oleh pihak rektorat, terbukti kurang dari 1 tahun sudah berdiri kokoh gedung rumah sakit pendidikan yang sengaja dibangun untuk mengejar akreditasi A fakultas kedokteran. Padahal Akreditasi program studi di FKIP masih rata-rata C. lalu kenapa yang diperjuangkan hanya fakultas kedokteran, kenapa fkip tidak? Apakah FKIP hanya dijadikan sebagai fakultas tambahan tanpa perhatian? Dimana letak keadilan pemimpin kita? Akankah dengan pergantian dekan FKIP bisa menjawab keinginan dan angan-angan kita bersama ini? Semoga FKIP kedepan menjadi lebih baik. Kepada dekan FKIP (Bapak Prof. Dr. Mahsun, MS) kami menunggu kontribusi dan dedikasi bapak. Tentunya sebagai orang tua kami dikampus, memberikan sebuah perubahan yang nyata adalah suatu keniscayaan. Menjadi pemimpin bukan hanya untuk mengejar tunjangan, tapi bagaimana caranya agar kami bisa mencintai pemimpin selayaknya sebagai orang tua kami.
 oleh *isa ihromi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar